cerpen tentang sebuah kebenaran
AKU TIDAK BERSALAH!
Kini, mentari sangat bersemangat
memancarkan sinarnya. Menyengat setiap kulit yang melewatinya. Bersinar
bercahaya di atas kepalanya. Dia seorang santri bernama Ninis Hapsari. Ia hidup
di sebuah ponpes yang berada di Jawa Timur. Dia adalah santri penghafal Qur`an
yang sudah menempati juz lima.dia memiliki sebuah riwayat sakit yaitu penyakit tifus
yang membuat ia dibully oleh teman dan kakak kelasnya.
Suatu ketika, dia muntah saat ingin
berangkat ke sekolah. Teman-teman nya terkejut dan membawanya kembali ke dalam
kamar.Wajahnya pucat,suhu badannya tinggi hingga mencapai empat puluh derajat
celcius. Tiba-tiba saja tamu bulanan itu datang tidak terduga.Panasnya mulai
merendah dan ia mulai melakukan aktivitas seperti biasanya. Akan tetapi, darah
kotor tersebut tak kunjung berhenti hingga melebihi lima belas hari. Ninis
sholat,dengan status sedang istihadhoh.
Setelah sholat maghrib dia pulang ke
kamar. Setelah sampai di kamar Ninis mendengar bel yang berbunyi pertanda waktu
persiapan hafalan kitab tinggal sepuluh menit lagi. Ia pun segera mempersiapkan
diri untuk berangkat hafalan kitab. Setibanya di kelas ia terkejut ternyata
kelas dalam keadaan kosong. “kok sepi sekali kelas ini.”gumamnya. Kemudian dia
duduk sambil menghafal tasrifan hingga waktu menunjukan bahwa hafalan kitab
telah selesai. Dia pun segera pulang untuk melaksanakan sholat isya’ dan tasbih.
Setelah menunaikan sholat, Ninis mendengar bel berbunyi kembali pertanda bahwa
waktu belajar malam akan segera dilaksanakan. Ninis pun bersiap-siap untuk
berangkat.
Sesampainya di depan gerbang,
ternyata gerbang tersebut sudah tertutup rapat,pertanda bahwa ia sudah
terlambat. Kemudian dia dita’zir untuk membaca surat Al-Qodr sebanyak
tujuh kali sambil memegang ubun-ubun kepala. Selesainya membaca, kemudian dia
pergi ke kelas, setelah sampai di kelas tiba-tiba dia dilabrak oleh
segerombolan anak alay.
“Heh
Ninis, kamu ngambil uangku kan?.” Kata kakak Jeje dan teman-temannya. Fitnah
tersebut tersebar hingga teman seangkatannya sendiri. Dia terkucilkan. Dia
memikirkan fitnah tersebut hingga demamnya mulai meninggi lagi. Ninis
sakit,akan tetapi dia tetap memaksa untuk terus ikut aktivitas seperti biasanya.
Hingga di suatu ketika,ia terjatuh pingsan saat ingin berangkat sekolah.
Temannya lagi-lagi terkejut dan membawa ninis kembali ke dalam kamarnya.
Hari demi hari panasnya tak kunjung
turun,darah istihadhoh nya pun belum berhenti,wajahnya semakin pucat dan dia
pun sulit untuk berbicara. Lalu,pengurus kamar datang dan bertanya kepadanya
“apakah kamu sudah makan?”alhasil,dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Pengurus terkejut ketika tahu bahwa dia belum makan dan marah kepada teman
sekamarnya karena Ninis belum dikasih makan,akhirnya pengurus menghukum semua
anggota kamar yang membuat Ninis semakin dibenci. Dia terus di fitnah
teman-temannya karena uang curiannya tersebut .Ia pun diduga berpura-pura sakit
.
Tiga hari kemudian teman dekatnya,cheryl
kembali dan membuat Ninis sangat bahagia.Ninis bermain dengannya untuk
melupakan sejenak masalah-masalahnya. Malam pun tiba,Ninis lagi-lagi memuntahkan
isi yang ada di perutnya. Hingga keesokan harinya, penyakit nya datang kembali,
kini kakinya pun ikut membiru, badannya melemas dan Ninis tidak bisa berbicara.
Cheryl datang dan bertanya padanya,”kamu mau apa Nis?”,yang ditanya pun
menjawab bahwa ia ingin pulang, ia menangis. Cheryl tak bisa berbuat apa-apa ia
hanya bisa menyuruhnya untuk beristirahat dan tidak ikut sekolah. Cheryl mulai
meninggalkan Ninis dan berangkat sekolah.
Beberapa jam tak terasa sudah
terlewati ,bel tanda pulang pun berbunyi yang membuat Cheryl bersegera untuk
kembali ke kamarnya. Saat Cheryl sedang menemani Ninis, kakaknya Ninis pun
datang. Akan tetapi, adzan ashar sudah berkumandang dan Cheryl pun pamit untuk
sholat ashar berjamaah .Tinggalah Ninis dan kakaknya di kamar.
“kamu
mau apa dek?kakak nanti mau ke kantin lho”Tanya kakak dengan lembut. Ninis
benar-benar lemah dan tak bisa menjawab ,dia hanya menggelengkan kepalanya.
Akhirnya kakaknya beranjak pergi. Akan tetapi, kakaknya kembali ketika melihat
Ninis menangis .
“dek,kamu
kenapa?coba ceritakan masalah mu!”suruh kakak masih dengan nada lembut
“kak,tadi
aku melihat seorang lelaki berbaju hitam di pojok sana dan ingin membawaku
pergi akan tetapi, aku berkata bahwa aku
belum siap.”jawabnya dengan nafas tersenggal-senggal. Kakaknya benar-benar
terkejut dan panik. Tak lama kemudian ,ambulan datang dan Ninis langsung saja
dibawa ke tabib. Sesampainya di rumah tabib, Ninis hanya diperiksa kecil dan
tabib berkata bahwa Ninis hanya sakit biasa. Lalu, tabib tersebut pergi ke
belakang dan tak terduga bahwa Ninis sudah tiada saat tabib ingin memeriksanya
kembali.
Jenazahnya pun dibawa kepondok,
kemudian dimandikan dan disholatkan tepat pukul satu malam. Jenazahnya ditaruh
di Istiqbal (tempat penitipan barang) karena ingin dikuburkan besok pagi.
Kebetulan ada salah satu pengurus yang sedang shiff sendirian sambil tiduran di
sebuah bangku panjang yang disampingnya terdapat meja kayu panjang. Pengurus
tersebut merasakan hawa yang tidak enak, lalu pengurus tersebut berdiri dan
ingin pergi tanpa sengaja pengurus tersebut melihat kearah meja panjang dan
ternyata melihat sosok Ninis yang berbaring dengan berbalut kain jarit yang
dikenakan saat pemandian tadi. Pengurusnya pun takut dan berlari.
Pagi hari pun tiba jenazah Ninis pun
dikuburkan. Semua santri pun ikut mendoakan. Teman-temannya yang dulu
membullynya merasa bersalah dan menangis. Setelah pemakaman selesai, malam
harinya salah satu temannya di datangi dalam mimpi dan mengatakan bahwa dia
tidak mencuri dan tidak bersalah. Kemudian temannya tersebut mengatakan kepada
semua temannya bahwa Ninis tidak pernah mencuri dan tidak bersalah. Setelahnya
para santri menghadiahkan surat Yassin kepada almarhumah Ninis dan almarhumah
pun tenang di alamnya.
BY:ADELIA

Tidak ada komentar untuk "cerpen tentang sebuah kebenaran"
Posting Komentar