Widget HTML Atas

tentang stigma

cerpen pengendalian diri

 



Sadar

 

   Malam yang hening ini, dirasa sangat sembilu oleh beberpa orang. saking sembilunya, banyak orang yang mearasa sepi dan berteman sedih. mungkin karena malam ini gerimis sedang merona dan awan mendung bahkan lebih hitam dari gelapnya malam. menjadi sebab muasal terjadinya penyembiluan masal. Yaa, suatu hal yang sangat umum bahkan wajar terjadi di desa tilap. Ya, namanya memang desa tilap dinamai demikian karna banyak orang yang suka menilap bahkan saking banyaknya penilap, penilap pun menilap penilap waw impresif suatu yang esensional sekali dan malam ini hal itu terjadi pada seorang penilap ulung yang tak pernah patah hati ya tak lain dan tak bukan karna hatinya memang tak pernah nyambung dengan siapapun. Orang orang menyebutnya dengan sebutan akeng entah dari mana sebutan itu berasal namun pria penilap ini terkenal dengan nama itu

   Akeng merasa ketidak adilan sedang mengadilinya dimana tadi pagi ia sedang stand di pasar gono gini, bersiap untuk menilap beberapa orang. Sebelumnya, ia telah berhasil menilap dua orang dan sudah mengantongi beberapa uang. ketika ia duduk mengintai di balik tirai tak ada angin tak guntur saat ia berhasil menilap korban ke tiga ia lihat dompetnya telah raib tanda di gasak penilap lain. muntab bukan main, si akeng sampai ia teriak

   “waaaa di mano pitih di mano beh” dengan logat khas minang ia berteriak teriak yang artinya

   “waaa di mana uang di mana” membuat orang di sekitarnya kaget tergela tak paham dengan apa yang di ucap akeng seorang java nen bond memberanikan diri untuk bertanya

   “ada apa kang” tak bergeming akeng di buatnya di tanya lah untuk kali ke dua dan tetap tak begeming ditanyalah untuk kali ke tiga tetap tak bersuara muntab di buatnya dan  java nen bond yang juga seorang penilap semi amatiran langsung menggasak uang hasil penilapan akeng yang ke tiga lalu hilang bak bayang bayang di gelapnya malam. Akeng yang sadar bahwa uangnya kembali di tilap mutung dengan alam dan kembali ke rumah dengan niatan untuk melanjutkan hidup

   Sesampainya di rumah ia bingung dengan apa ia melanjutka hidup. uang hilang, harta tak punya, hidup di rantau, kerabat jauh, lalu ia terlelap karna memikirkan uangnya yang di tilap. kenapa bisa sebegitunya ia bersikap, padahal, bila dia di tilap, seharusnya tanpa pikir pusing dia bisa menilap lagi. jawabannya adalah, uang di dompetnya itu adalah uang yang ia tabung dan diawet - awet agar nanti bisa di gunakan untuk modal nikah walau ia belum tau mau menikah dengan siapa tapi dengan bekal keyakinan yang tinggi dirinya yakin bahwa kelak ia akan menikah.

  Ia pun terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa hari telah berganti pagi bersiap lagi ia akan menilap tapi kali ini bukan di pasar gono gini melainkan di setasiun kehidupan wah memang eksentrik sekali nama nama tempat di desa tilap ini bahkan ada ketua RT yang bernama insinyur Gundul pro jadi warga warga memanggil pak RT itu dengan sebutan pak Gundul

   Bersiap akeng untuk menilap di pandangnya langit cerah tanda tak akan merintih awan kali ini berangkatlah akeng dengan membonceng speda kumbang pak kenca meliuk liuk seperti kucing lapar belok kanan belok kiri lurus wae dan sampeilah sang akeng di terminal kehidupan yaaa besarnya tak lain sama dengan terminal giwangan jogja. Berjalan lah akeng ke kursi tunggu penumpang diliriknya kanan dan kiri, tak ada yang mencurigainya, bersiap ia menilap, di kuncinya target, saat ia berjalan dan bersiap melakukan gerakan tilap yang sangat cantik, tersandunglah ia oleh kaki seseorang.dan gagallah aksi penilapan yang teramat cantik itu. Lalu di lihatlah siapa gerangan yang membuat dia terjatuh itu.ternyata eh ternyata tergela bukan main yang menyandung dirinya adalah seorang perempuan cantik dengan kerudung dan  dan dengan busana yang teramat sopan. Dikira cupu dan lemah langsung saja akeng mendampartnya dengan suara lirih 


“hei apa masalah mu” ujar akeng ganas

“emang kenapa yang kamu lakukan adalah hal yang salah” balik sang wanita yang tak kalah ganas

“asal ku tau ya nggak usah campuri urusan orang lain” lalu akeng berpaling dan beranjak meninggalkan tapi dari jauh sang wanita itu berseru

“kang sepandai pandainya kamu menilap ingat kang allah selalu melihatmu dan dia akan membalas sipa siapa yang mencederai makhuknya tanpa alasan” Tapi tak di gubris perkataan sang wanita dan akeng pun tetap berlalu meninggalkan sang wanita.

   Sesampainya di rumah ketika hendak beranjak untuk menenggelamkan penat dalam mimpi mimpi ia terngiang lagi dengan perkataan sang wanita. Sampai larut malam ia berusaha mencerna kata kata itu hingga terbesitlah sebuah pertanyan yang lantang mengaung di fikiran nya

“tujuan hidup itu apa sih”

   Esoknya ia berusaha mencari keberadaan sang wanita di stasiun kehidupan di tempat yang sama dan di waktu yang sama. Yak tepat wanita itu berada di tempat yang sama seperti kemarin.di dekatinya dan akeng menyapanya

“hei”

   Sang wanita menoleh dan termanyun seraya berkata

“kamu yang kemarin ada apa mau menilap saya”tebak sang wanita

“tidak” sergah akeng

“lantas gerangan apa yang membawa mu ke sini”

   Lalu akeng pun pindah posisi yang awalnya di depan sang wanita pindah ke sebelah wanita seraya bertanya

“kamu siapa?” tanya akeng

“hah Cuma mau tanya kayak gitu. Ni aku kasih tau nama ku Ara dari desa engkol” jawab ara meremehkan.

“aku mau tanya apa sih tujuan hidup itu?”tanya akeng penasaran.

“ wah wah ada yang sadar dengan kesilapan yang nyata nih, oke, jadi gini.......”banyak sekali yang di jelaskan ara pada akeng. Sampai, bertui tubi akeng menghujani ara dengan pertanyaan, di jawab oleh ara dengan pelan namun jelas. hingga kata terakhir yang terucap.

“jadi gitu kita hidup itu darinya dan hanya akan kembali padanya nah makna kata kembali itu ada dua pula kembali dengan selamat atau harus dengan  penyiksaan dulu seharusnya kita sebagai manusia kan maunya yang selamatkan maka berbuat baiklah agar kelak kembali dengan selamat”

“ooo.... ok lah kalau begitu terimakasih ya atas waktunya”

“ok sama sama”

   Sejak peristiwa itu akeng sudah berhenti menilap dan dia punya teman untuk memperbaiki hatinya yang selama ini menghitam dan lebih hitam dari hitamnya kopi. Ia mulai berkerja dan menjadi orang baik, yang tak hanya hubungan dengan tuhan saja, tapi, hubungan dengan manusia pun ia jaga agar, terjalin hubungan yang baik dan tentram.

   Tak lupa pula dia meminta maaf pada orang orang yang dulu pernah ia sakiti. Sehingga, ia punya banyank teman bahkan, banyak tetangga dan temannya yang ingin menganggapnya sebagai kerabat, tak lain dan tak bukan karna kebaikannya yang memang menyenangkan hati dan dia tersenyum di tiap tiap harinya seolah tanda terimakasih terbesar atas di datangkan hidayah yang indah melalui seorang yang indah pula

   Jadi kita bisa menyimpulkan bahwa memang hakikat hidup adalah pengendalian diri. apabila kita mau sesuatu, maka, kita juga harus melakukan sesuatu. Nah, melakukan sesuatu ini haruslah sesuai dengan kaidah kaidah islam. jangan sampai melenceng dan jangan sampai salah. Karna, melakukan hal baik harus dengan cara yang baik pula.

           By:abu ma’syar al   

                                                                                        Hanya manusia biasa

 

                                                                                            

 

 

 

 

 

 

                                                                                            

 

 

 

 By:abu ma’syar al

                                                                                              Hanya manusia biasa

Tidak ada komentar untuk "cerpen pengendalian diri"