Widget HTML Atas

tentang stigma

cerpen seru buat tegang

 

Mendadak

Siang itu Alana dan Nelista sedang duduk di sebuah cafe yang sering mereka kunjungi untuk makan siang. “Na, kamu tau gak tadi sebelum aku kesini Dikta nanyain kamu tuh” Ujar Nelista dengan senang. “Dikta siapa? aku gak kenal.” Balas Alana dengan malas dan langsung melanjutkan kegiatannya membaca puisi yang akan dia tampilkan saat pentas minggu depan. “What!! gak usah sok lupa deh. Anak Fakultas kedokteran, ganteng, dan seluruh kampus juga tau. Lagian kamu juga udah ketemu sama dia di depan kampus.” kata Nelista dengan crewet. Namun yang di ajak bicara hanya diam dan terus menatap puisi yang ia bawa.

“Kamu kenapa sih? Diem mulu ku ajak ngomong. Mikirin apa sih?”

“Liat deh puisinya. Kamu paham gak sih maksud dari puisi ini apa?" Tanya Alana sembari menyodorkan puisi tersebut.

“Ini kan puisi Anak bahasa yang terkenal dingin itu. Ya ampun Na, masih aja mikirin tuh es batu. Lagian kamu gak capek mendem dari dulu.”Ucapnya dan lanjut membaca puisi tersebut.

Tanpa bisa dirangkai oleh kata, cinta tetap saja cinta.

Tanpa adanya huruf yang terucap.

Irismu yang indah senantiasa mampu memorak-morandakan hati yang baru saja ku rapikan

Kenapa harus hati yang selalu menang jika dibandingkamugika dalam pikiran.

Hadirmu bak cahya yang ada di dalam kegelapan.

Memberi pelangi untuk jiwa yang terlalu hitam putih.

Memberi nafas pada lorong anggara

Yakinkan bahwa cinta itu benar adanya

Karena tanpa adanya kicaupun, burung bisa terbang juga dengat amat bebas.

Merdekalah. Dengan apa yang kau miliki dan aku datangi kamu.

Dimanapun.

“Aku yakin deh puisi ini pasti pesan Alen buat aku. Dia pasti juga punya rasa yang sama denganku. Hanya saja mengapa dia tak mengucapkan apapun kepadaku.”

“ Entahlah. Aku juga bingung sama temanku ini. Mengapa harus cowok seperti itu yang dicintainya.”

“Dia berbeda. Dan bahkan aku tergila-gila dengan mata black pearlnya.”

 “Kalau begini sama saja seperti jemuran, digantung. Diantara kalian harus ada yang memulai lebih dulu.”

Hari demi hari terus berganti. Alana pun mulai tak sanggup lagi untuk menahan perasaan yang selama ini dipendamnya kepada Alen. Akhirnya pun ia menghampiri Alen yang sedang duduk di taman kampus.

“Hai Alen.” Sapanya dengan senyum canggung.

“Ada apa Alana?” Tanya Alen.

“A aku mau bilang sesuatu sama kamu.” Ucap Alana dengan gugup.

“Maaf Alana, aku harus ke perpustakaan. Ada bahan yang harus ku cari. Lain kali saja ya.” Setelah mengatakan itu, Alen pun beranjak pergi meninggalkan Alana.

Belum jauh Alen pergi, Alana langsung mengatakan hal yang selama ini ia bendung sendiri. “Alen, Aku mencintaimu!” Teriak Alana lantang.

Mendengar teriakan itu, Alen tak berbalik sedikitpun. Hanya menghentikan langkah sebentar kemudian meninggalkan Alana sendirian. Alana hanya menangis karena merasa tak mendapat respond dari Alen dan apa yang ia katakan hanyalah sia-sia.

Kemudia ia pulang ke apartemen dan menangis sejadi-jadinya. Dan akhirnya karena lelah menangis Alana pun tertidur. Pada keesokan harinya, ayah dan ibu Alana meneleponnya dan memintanya untuk segera pulang. Ada hal penting katanya.

“Nak, tadi ada yang cowok yang mencoba melamarmu. Menurut ayah dia anak yang baik dan kedengarannya dia serius ingin melamarmu.” Ujar ayahnya.

Mendengar hal itu, semangat Alana semakin pudar.

“Maaf ayah, Alana belum kepikiran untuk menikah. Alana ingin beristirahat dulu di kamar. Alana letih.” Jawab Alana menuju kamarnya.

“Namanya Alen.” Sahut ibunya sebelum Alana melaangkah lebih jauh.

Mendengar nama yang selama ini ia cintai, mata Alana langsung berbinar dan dengan ceria ia menghampiri ibunya.

“Alen? Benarkah ibu?”

“Iya benar. Alen namanya.”

                                                                                    BY   : Danela Bunga Annastasya


Tidak ada komentar untuk "cerpen seru buat tegang"