CERPEN: PENDAKIAN
SEPASANG PENDAKI
Adzan sudah menggema,tepat khutbah jum’at menyapa.Tibalah aku dan kakakku di basecamp pendakian.Supra memarkirkan dirinya.Persiapan telah kusiapkan,doa telah kupanjatkan.Dulu,ketika masih kecil,kusering bertanya tanya kepada kakak,”kenapa sih harus mendaki?”dan kakakku pun diam saja,dan memintaku untuk membuktikannya,dan hari ini cerita itu dimulai ketika kupandang langit dengan ratapan harapan,Kulihat didepan basecamp terdapat tiga orang,satu perempuan berambut panjang,mungkin masih SD,dan yang lainnya laki laki bertubuh tinggi.Tepat didepan tugu bertuliskan cemoro sewu,ku menengadah ke langit,berharap kau tetap ada bersamaku hingga akhir usia.Lalu kupergi membasuh muka,tak terlupa hati,pergi dengan kekanakan,pulang dengan pendewasaan.Sempat kurapikan rambut dan tiba tiba seseorang memanggilku dari belakang.
“Mas ndakinya sendiri ya?”Tanya laki laki bertumbuh tinggi tadi.
“Nggak kok,sama kakak,berdua saja.Karena sendiri adalah sepi, dan bertiga adalah luka”
“Ohh bisa aja,nggak rombongan kan?”
“Nggak,emang kenapa mas?”Tanyaku balik
“Ini,ada teman dari sulawesi,rencana mau ndaki,tapi belum ada rombongan,boleh bareng mas?”
“Oh nggak papa,la masnya nggak ngikut juga”
“Soalnya ini ada acara ndadak,nggak bisa ikut deh”
“Ohh”
Kakakku datang dengan mengelap rambutnya yang basah.Persiapan sudah selesai,kamipun beranjak registrasi dan mampir ke kamar mandi sebentar.Kakakku masuk dan menyisakan aku dan pendaki dari sulawesi itu.Ia pun membuka pembicaraan.
“Dari mana mas?”
“Dari sragen,la masnya?”
“Ini,dari sulawesi,tapi sekarang sih masih di pare”
“Emang nggak ada teman ndaki ya?”
“Udah ngajak,banyak yang mau,tapi pas hari H nya pada nggak datang”
“Sabar ya mas,kayaknya masnya ini korban PHP ya,kasihan”Candaku dengan tertawa kecil
“Ya nggak papalah,namanya juga manusia”
Kakakku pun keluar,dan pendaki dari sulawesi itupun berpisah dengan teman dan adik yang sedari tadi telah menunggu dan mengantarnya ke basecamp.Kamipun beranjak menyusuri jalan setapak yang berkontur batu itu.
“Untung nggak hujan”Hatiku sesekali berkata
Ku terus susuri jalan yang agak landai,pohon pohon cemara mengelilingi.Suara desing kendaraan masih saja terdengar.Jalan yang semakin nanjak,membuatku menghela nafas sedikit terhenti.Kakakku di belakang bersama pendaki dari sulawesi itu,sedangkan aku didepan seolah memimpin perjalanan,mengenakan kayu seadanya untuk dijadikan kaki ketiga selama pendakian.Sesekali kutemukan semacam sesajen ataupun tempat pemujaan disetiap jalan,juga terdapat burung jalak yang mengikuti kami sedari tadi.Mitosnya sih,dari masyarakat sekitar,burung ini mengarahkan pendaki menuju puncak.Tapi entah,benar atau tidak,beruntungnya siang ini kami tidak menjumpai kabut.
Jalan setapak masih saja terlihat,sudah empat puluh menitkami berjalan dan akhirnya sampailah di pos bayangan.Kukira pos 1,pantas saja namanya pos bayangan,pos 1 saja belum terlihat,masih dalam bayang bayang seperti kekasihmu yang belum terlihat,masih dalam khayalan yang kau impi impikan,tapi dirinya malah memilih orang lain.kembali kuberjalan.
“kok ada motor ya”Tanyaku heran
“Kan jalannya masih bisa dilalui dengan kendaraan,tapi kasian juga kalau motornya bagus,nanti rusak soalnya”Jawab kakakku
“iya ya mas,mumpung masih punya kaki mendingan jalan kaki”Pungkas mas Ardi si pendaki dari sulawesi
Disini terdapat bangunan putih,seperti sengaja dirubuhkan.Berbentuk seperti mushola,atapnya berada tepat disandarkan di pohon besar dekat bangunan itu,sampah juga berserakan di sekitar pos bayangan ini.
“Sayang,alam saja tidak dipedulikan,sampah ada dimana mana,aku bingung sama pendaki lain,carrier aja dibawa,harusnya sampah kecilpun juga”pungkas mas Ardi
“Bukannya ninggal kenangan,malah ninggal sampah sembarangan”Timpal kakakku mempercandainya
Kamipun terus berjalan,tepat jauh disana,terlihat bangunanyang bergedeg seng.
“Mungkin warung kayaknya”Pikirku terbata bata
Kaki ini akhirnya merangkah sampai diwarung itu,tapi warungnya tutup,mungkin penjualnya masih liburan kali ya,kan masih hawa hawa lebaran,wajar saja.
“ini pos 1”pungkasku
Kami berjumpa dengan pendaki lain disini
“Istirahat dulu mas,ini ada nastar,makan sini dulu”Ajak pendaki lain yang duduk bertiga di pos 1 itu
“iya mas”Pungkas mas Ardi
Kami pun beristirahat,makan roti,minum air dan nastar bekas lebaran tadi.
“nggak usah istirahat terlalu lama,karna jika sudah duduk terlalu lama,tenaga akan turun drastis bagai pertama berjalan dari basecamp,serasa mengulangi dan harus mengisi tenaga dengan terengah engah kembali”Kata kakakku
Kakipun beranjak pergi meninggalkan pendaki tadi,burung jalak menghampiriku lagi,jalak yang berbeda,agak sedikit gemuk,mungkin karna makanan yang manis manis memasuki tubuhnya.
Kabut seiringan mulai dating,sehingga mengaburkan jarak pandang yang hanya sebatas teman,cumin bercanda.Tapi beneran,kabut menghancurkan pandangan mata yang menatap jauh keatas.Sesekali,keringat bercampur dengan dinginnya gunung,jadinya keringat dingin,ya iyalah,la kalau keringat campur soda,jadinya fanta.
Kaki mulai tak kuasa melangkah.Dua tiga menit berhenti,empat lima menit berhenti,minum lanjut lagi,jantung berdebar kencang,nafas sesekali tak terkendali. Kata kakak jalur 1-2 itu tak sepadan dengan pos 3-4, katanya lebih nanjak dan curam, naik terus taka da sedikit pun jaan lurus.
Jam menunjukkan pukul 13.40, ketemu pendaki turun yang mengatakan pos 2 5 menit lagi, Hah kami pun mencobanya dan sudah lebih dari 5 menit kami tak kunjung sampai di pos, emang ya kata rang pendaki itu suka bercanda. Di kata 5 menit lagi padahal masih 20 menitan lagi. Ini ni yang membuat rindu ingin kembali mengulanginya lagi pengalaman berkesan ini lagi.
Akhirnya kami sampai di pos 2, udara dingin,kabut mulai menipis, beruntungnya terdapat warung yang menyajikan semangka dan makanam khas gunung lainnya, sholat dengan tidak berwudlu, Cuma tayamum, apakah itu boleh? Padahal ada air aqua di botol, tapi untuk persediaan air. Setelahnya, ku sebul mulutku dan keluarlah asap mengepul.Sesekai kumakan semangka,dan minum air yang dingin dengan sendirinya.
Kembali kami berjalan,pos 2-3 jalan mulai menanjak dan curam.Kumasih memimpin didepan,dan kakakku menyalakan hpnya,musikpun menyala,kau tau agu yang berjudul”bertaut”,music itu seakan memengaruhi pikirku,mengekang dan seakan menyuruhku untuk slalu memikirkanmu.Tak sekedar itu,rang rang daam hidupku serasa ada menemani disetiap raga perjalanan ini,lagu demi lagu berputar bak kemidi putar.
“Izinkan kulukis senja,mengukir namamu disana”Suaraku meniru music itu.
Lama dan semakin lama,kaki ini takkuat lagi merintih,hanya dan yang mampu terucap.
Dan kalimat”monggo”yang kudengar dari sapaan pendaki lain,sekali kali bertemu dengan manusia baru.
Digunung,sudah wajar saling menyapa,saling bercerita dan tak pernah sepalsu dikota,dikota hanya kebanyakan drama,dan tak seasli disini.Disini semuanya sama,menganggap semua makhuk ciptaan Tuhan sebagai teman,kerabat,dan bisa pua dianggap sebagai sahabat.Semua itu tergantung hati masing masing,kalau hati orang itu baik kepada sesama,maka alam akan baik kepadanya,dan sebaliknya.
Kami sudah mulai Lelah,pendaki dari atas sudah mulai ada yang turun.
“Semangat mas”sapa cewek yang entah turun dari mana,ternyata salah satu pendaki yang turun tadi, kukira bidadari turun dari kayangan.Penghayalan seakan menawan ku memburu dinginnya kabut kala itu, seketika alam serasa berkata padaku
“Di gunung hanya ada satu aturan, hormati aku maka kau akan selamat,datangah dengan pongah,mati kau dicabik runcing nya terbing dan kejamnya pergunungan yang tidak belas kasihan”
Berjalan dan terus berjalan mengikuti arah batu berjajar.Lalu terdengar suara keramaian,dan akhirnya pos 3 pun terlihat,kami bergegas menuju tempat yang sedari tadi kami cari itu.Disini kami bertemu dengan keluarga yang berasal dari bandung,dan mas Ardi menyebutnya keluarga pendaki.
“Memang hebat keluarga ini,anak anak aja udah bisa menaklukan gunung”kata mas Ardi menanggapi.
Kamipun bersantap ria,dengan nasi telur yang kubeli di tawangmangu tadi,sempat Tanya Tanya,tapi mereka pakai Bahasa dan logat bandung,membuat kami kesulitan.Tenang aja,karna masih ada Bahasa Indonesia sebagai Bahasa pemersatu.
“ini namanya siapa bapak?”Tanya bang Ardi
“Oh ini,namaya mail,baru umur 9 tahun”.
“La ini ndakinya sekeluarga?”
“Ya,lah masnya bareng siapa?”
“Ini, sama temen dari sragen”Pungkas bang Ardi
“Bertiga?”
“ya pak,soalnya kalau sendiri kan sepi jadinya nanti pak”Kata bang Ardi sedikit meniru omonganku ketika baru berjumpa di basecamp awal tadi.
Pos 3 seakan memengaruhi kami untuk semakin lama disana,tetapi waktu berputar cepat bagai desing peluru.
“Duluan ya mas,soalnya ngejar waktu”kata kakakku kepada keluarga itu
“monggo monggo” jawab mereka dengan penuh rasa iba.
Lagu tadi berputar lagi di dalam tas, mengiri perjalan kami mencari kaki langit. Kali ini, harus bisa mengatur nafas, kaki yang sudah pegal dan pusing yang merasuki otak dan membuat terus-terusan berhenti.
Jalak pun datang lagi, seakan memberi arah yang benar. Jalan terobosanpun ada, kami pun berjalan melalui terobosan itu agar cepat membokam waktu. Jalan licin membuat kaki ku sedikit terpeleset, “ untung tidak jatuh “ ujarku sembari menatap keatas, kearah langit.
“ Kak masih lama ya…..? “ tanyaku kepada kakakku
“ Penting ngikutin jalan ini terus, nanti juga sampai “. Katanya meyakinkanku.
Jam pun menunjukan pukul 16.40 pos 4 terlihat samar-samar dar kejauhan, disini tak ada yang namanya warung dan tak ada yang namanya selter, yang ada adalah pemandangan yang sangat indah yang di hadirkan semesta untuk semua manusia. Agar kita slalu bersyukur. Disini pula, kita dapat melihat dirikita kecil di hadapan alam semesta. Kami bertemu empat pendaki dari madura.
“Bang pos 5 berapa menit lagi?”Tanya salah satu pendaki
“Oh sedikit lagi mas,kira kira 30 menit lagi,tinggal naik trus”kata kakakku menjelaskan
Disini kami sempat bertukar semangat,dan berbagi cerita dan tak lama kami memilih lebih dulu melanjutkan pendakian,sedangkan yang lain sedang berfoto mesra Bersama alam semesta.Jam segini kami baru sholat ashar,sengaja nggak dijama’sholatnya,supaya bisa merasakan sholat di ketinggian.Maaf,disini sholatnya sendiri sendiri,dan belum sempat jamaah,ya kalua ingin jamaah kapan kapan aja,soalnya belum siap jadi imammu,doain.
Kami lanjutkan pendakian,keatas impian,kutitipkan salamku pada ketinggian,diatas langit yang masih berupa harapan,dan akhirnya pos 5 terlihat samar,api unggun dikelilingi orang yang sedang menghangatkan badan,disertai 2 warung yang telah buka menyajikan ribuan rasa entah Bernama.
“boleh ikut mas?”tanyaku
“Monggo,monggo”
Badan yang tak kuat lagi merintih,diterkam dinginnya gunung sore ini,kami berjalan Kembali dikala senja mulai menghilang.Detik ini,jiwaku lebur ragaku hancur.Lama dan semakin lama,kami tiba disebuah pusat air dan tempat sesajen,konon masyarakat lawu menjelmakannya bekas pertapaan raja raja dahulu yang pernah singgah di gunung lawu ini.Tak jauh dari situ terdapat warung yang cukup besar,dan berkibarkan bendera merah putih diatasnya,yang tak bisa di pungkiri,”Pak To”pemiliknya,orang tua paruh baya yang berjualan diketinggian 3000 an itu tinggal disitu cukup lama,Bersama dua kucing kesayangannya.
Haripun menggelap,membuatku harus menginap di warung itu.
“pak,tidur sini boleh?”Pintaku
“Rapopo le,ndang kono”
“matur nuwun pak”
Kamipun istirahat didalamnya, dan bercengkrama Bersama bapak tua itu,Bahagia rasanya,bisa bercandaria bareng orang yang kuanggap guru itu,bagiku,bapak itu adalah secuil cerita yang dihadirkan lawu untuk Indonesia.
“Terimakasih lawu”kataku dihati terdalam dikala kusruput kopi yang sudah kupesan tadi.Setelah cukup lama,kumemaksa tidur diriku.Dingin sudah kurang dari 0 derajat.Badanku menggigil,kututupi ragaku dengan sleeping bag,tapi tetap saja,dingin merasuki tubuhku,seakan lawu ingin saja membunuh orang orang yang ada disana.
“Yang tak kuat silahkan menyingkir”seolah bisikkan menghantui entah dari mana.
Tidur tak nyenyak,dan sesekali terbangun,saat itu,akupun melihat banner yang sudah kusam,diwarung itu yang bertuliskan
“Kami mendaki,bukan untuk menaklukkan gunung,tetapi ini adalah bukti kecil kami mencintai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Kuratapi tulisan itu,dengan penuh ratapan.Berharap bisa sampai puncak dan pulang dengan selamat,walaupun dari sebelum mendaki,ibuku sempat tak mengizinkan,tapi akhirnya boleh,karna tekat yang sudah tersusun sekuat baja.Ini adalah bekal terbaik untukku”restu orang tua” Yang Menguatkanku hingga sekarang ini, Yang membawaku hingga saat ini.
Kaki keram, Tubuhku tak kuasa bergerak dan tiba tiba perutku ada yang menindih dan sempat kulihat siapa yang menindih “Ah Cuma kucing” perasaanku berkata.
Kucing Yang kedinginan sedang tertidur diperutku, Suatu pelajaran yang dapat kupetik dari sini, Manusia dilahirkan tidak sendirian, Tapi Iya dilahirkan secara Bersama sama dan untuk saling menolong. Tidak hanya manusia, Hewan pun piunya hak untuk dikasihi, Ditolong dan dicintai.
Aku pun tertidur disela malam berharap kau akan datang menemaniku. Sekujur tubuhku sudah menjadi ribuan kata dan suara yang telah diremukan oleh lawu “Karna mu aku ada “ kataku terakhir kali sebelum mata ini benar benar terpejam.
Esok pun datang fajar menyingsing, Aku terbangun seraya melihat jam dihp, Jam sudah menunjukan pukul 5.48, kubangunkan kakak dan temannya tadi “ Sudah kesiangan kak,” Pungkasku “Enggak papa” katanya sambil mengernyipkan mata.
Untuk summit attack kali ini, kami tertinggal start dari pendaki lain, tenda yang tadi malam ada diluar warung sekarang sudah tidak ada orangnya. Kami bergegas menuju ke kaki langit, nafas pagi ini tak teratur diterpa ribuan terik dan disertai dingin. Kaki ini terus melangkah melewati bongkahan batu tanah, tangan seraya membantu meraih dahan disekujur bukit, berkolaborasi dengan wajah yang tak letih menengadah.
Sejenak, berhenti melihat keindahan atas awan dinegri sendiri. Aqua yang terbawa oleh bang ardi sesegera habis terminum. Edelwis menampakan dirinya, Serupa ada serupa tak ada.
Aroma puncakpun sudah bisa kurasakan,sesak nafas yang seringkali ada,membuat kami bertiga terengah-engah dan mengharuskan untuk beristirahat sejenak.Pijakan serta usaha menyusuri jalan bebatuan berkontur tanah meninggi itu,sangat menguras tenaga.Lima menit,sepuluh menit berlalu dan nafas ini mulai menghilang dan kembali seperti dulu lagi.Kami menatap jelas edelweiss yang berada tepat di samping badan yang akan siap terhempas kapanpun saja.dingin disertai panas matahari menghiasi raga kami.Akhirnya terlihatlah sesosok tugu dan bendera merah putih dipuncak itu.kami berjalan pelan lalu menghampiri dan tersujud memeluknya.
“apa kabar?”sapaku kepada alam semesta pagi ini.tangis haru menghampiri mata yang seringkali terpejam.dipuncak,ku berdialog dengan Tuhan.doa yang telah menghantarkanku sejauh ini.Rasa lelah tadi hilang dalam sekejap ketika kutatap ciptaan-Nya,pemandangan surga dunia yang tak kalah menariknya dengan di kota.
“Dilangit yang aku tatap,ada rindu yang aku titip”kataku perlahan
Setelah itu kakakku mengajakku dan bang ardi pergi menuju tempat para dewi,tempat yang jarang disinggahi manusia,karna tempatnya yang jarang orang tau keberadaannya.kami susuri tanah mirig bak jurang menganga siap menyantap kami.”hati hati”adalah kata yang harus ada lam raga,sempat mau terjatuh,tetapi takdir berkata lain,hingga akhirnya kaki ini tiba disebuah tempat indah yang tak terjamah oleh manusia.aku berlari tak karuan,berputar,meliuk,dan menari di sabana itu.disini dapat kulihat banyak batu yang tersusun dan bertuliskan nama nama,lubang tua berhiaskan 7 batu besar yang mengelilinginya,
“untuk apa semua ini?”tanyaku berbisik kepada lawu
Dan tak akan pernah ada jawaban apapun yang kudengar.Disini,ditempat yang dinamakan kawah mati gunung lawu,aku tuliskan nama sanupala dan namamu.sedang kakakku menulis namanya dan bang ardi menulis nama organisasinya,cerita dan kenangan kmi terbuat dan hidup di tubuh lawu.matahari sudah mulai mengatas,kaipun berfoto ria,seusai itu kami bergegas kembali.secuil lagu mengingtkanku pada tempat ini.
Fikirkan indah tentang surga,seakan akan disana
Berkhayal semua tentang jiwa,ku tenang....
Setelah naik Kembali ke puncak, kami liat jelas dari atas tulisan itu. Sempat terharu,meninggalkan namamu disana. Tapi tak apa, lawu pagi ini mengisahkan kami dari ribuan pendaki lain.suara demi suara berdatangan dan bersua Bersama.
Sedikit terdiam memandangi anugerah tuhan. Awan mengepul biru, sebiru centang WA darimu. Ini adalah kali pertamaku mendaki dan tatkala itu bang Ardi berkata padaku
“Eaak…… lawu saja bisa kutaklukan apa lagi dirimu!” pungkasnya samabil tertawa padaku
“Hayoo….. siapa bang ?”
Rahasia katanya, akhirnya kakak mengajak kami turun melewati batuan dan arah yang berbeda, saat itu….”Eeeh Tang jangan kayak gitu” pungkas kakakku saat melihat kedua tanganku berada dalam saku celana.
“kenapa kak?” tanyaku balik.
“ingat? Digunung itu tidak boleh sombong”
Teringat saat itu juga,digunung itu kita hanya sebagai tamu dan pantasnya tamu itu seperti apa? Setelah jalan bebatuan miring, berganti jalan lurus datar, kami berjalan menuju warung yang legendaris”warung mbok yem”terkenal dengan warung tertinggi di Indonesia dari kalangan pendaki.
Kami langsung masuk dan memesan pecel telur dan the panas,dan bang ardi pun tak melewatkan pengalamanya,ia pun bertanya dan mengajak foto mbok yem yang sedari tadi sedang masuk itu.
“Mbok,sibuk nggak mbok?”Kata bang ardi sambal membawa hpnya untuk foto bareng itu.
“wes wes,ngaleh ngaleh”tegas mbok yem
Bang ardipun sedikit malu,dan berkata padaku.
“gini gini,galaknya minta ampun”katanya
Setelah menunggu lama,pecel datang dengan teh panas tadi,kamipun makan dengan lahap makanan legendaris lawu itu.Waktu menunjukkan pukul 9.15,dan kami memutuskan untuk pulang.Sesaat setelah membayar pecel,aku keluar dan terjadug kepalaku pada atap pintu warung itu.
“Dugg”suara benturan keras
Saat itulah pendaki yang ada di luar warung tertawa seketika.
“suatu saat nanti akan jadi kenangan indah,apa yang kulakukan saat ini”bisikku kepada diri ini
“ati ati mas”bujuk rayu salah satu pendaki
Kamipun pergi menyusuri dahan dahan,dan tak jauh dari situ terdapat rumah joglo yang tepat berdiri kokoh dilereng lawu.Belakangnyapun kulihat banyak sekali makam makam yang entah makam siapa itu.Joglo tua bercat putih termakan usia,dan sampingnya pun kamar mandi kramat,dari sini kubisa lihat pasar dieng dari kejauhan yang dikalangan pendaki dinamakan pasar setan,jalur cetho yang banyak memakan korban,untungnya sedari awal tadi nggak lewat sana,jalur paling lama untuk singgah di hargo dumilah.
Desas desus angin menawanku menuju masa lalu,dan menimbulkan banyak pertanyaan silih berganti yang melekat di fikiranku
“bangunan ini kapan dibangunnya?mbuatnya gimana?dan makam makam itu punya siapa?”
Dan terakhir yang membuatku merinding ialah Ketika kabut datang memenuhi perjalanan pulang,ada sedikit pertanyaan yang merusak pikiranku akan rumah,
“Perjalanan pulang ini,akankah selamat sampai tujuan.”
Sebelum diri ini pergi memeluk dinginnya kabut,aku berterimakasih padamu lawu,karna telah kau sisipkan anugerah terindah Tuhan kepadaku.ketika hati yang telah berpulang kepangkuan alam,dan untuk sesosok para pendaki yang hilang di gunung lawu,aku akan terus berdoa,tenanglah disana.
Pesan terakhir kaliku sebelum benar benar ditelan ramainya kabut yang berdatangan mengantar pesan alam.Untukmu lawu,kau sudah ajari aku cara tertawa,terluka,saling menghargai,dan tidak sekedar itu,kaupun mengajariku untuk saling memiliki..
@Ilhamrobbani


Tidak ada komentar untuk "CERPEN: PENDAKIAN"
Posting Komentar